Categories
Home

Kebenaran

DI kepala kita, tanpa kita sadari, kadang-kadang tumbuh sesuatu yang perkasa, bernama Kebenaran. Ia tak tergerak oleh segala yang berubah, yang mengalir, mekar, mengeriput, atau merosot. Ia mantap. Kita mungkin merasa aman, tapi rasanya kita tak bisa hidup terus-menerus dengan itu. Saya ingat sebuah sajak Yehuda Amichai: Dari tempat di mana kita benar kembang tak pernah tumbuh di musim semi Tempat di mana kita benar keras dan dipadatkan.

Seperti pekarangan. Tapi keraguan dan cinta menggemburkan bumi, seperti tikus tanah seperti bajak. dan ada bisik yang akan terdengar di tempat ini di celah-celah puing rumah Dalam posisi sebagai ”kita-yang-benar”, bisa terjadi sesuatu yang represif: kita jadi subyek yang menguasai persoalan sepenuhnya subyek yang tegak, keras, dan tegar. ”Kebenaran” dalam kepala kita tak hendak meluangkan yang lain berkembang sendiri.

Ia bahkan tak boleh terganggu sekuntum bunga yang mendadak mengorak. Musim boleh berganti, tapi tak dimungkinkan mengubah susunan yang tetap. ”Kebenaran” yang mengeras di kepala kita akhirnya sebuah konstruksi yang harus dibikin padat padu, ”keras dan dipadatkan”. Ia tak akan punya kejutan. Semua ditata di permukaan yang datar, mengikuti pagar dan petak pekarangan yang persis dan sempurna. Tapi selalu ada sesuatu yang lain. Dalam sajak Amichai, yang lain itu adalah ”keraguan dan cinta”.

Keraguan bisa membuat kita seperti tanah gembur yang lunak, tak liat dan konsisten. Dan ketika cinta merasuki kita, kita seakan-akan mendapat semacam kekuatan tersembunyi yang tak bisa tunduk bahkan kepada dalil-dalil ”Kebenaran”. Cinta menyelamatkan kita dari penyempitan hidup yang hanya disederhanakan jadi ruang ”salah” dan ”benar”. Cinta memperkukuh kita di tengah keganasan antagonisme. ”Dan ada bisik yang akan terdengar di tempat ini/ di celah-celah puing rumah.

” Bisik itu mengingatkan: pernah ada sebuah bangunan damai yang hancur, ketika kita bersikeras bahwa kita dalam ”Kebenaran”—dan menutup pintu bagi orang lain yang tak mau mufakat. Mungkin Amichai (ia seorang penyair Israel) terlampau lama mengalami perang dalam hidupnya—perang yang masing-masing petarungnya tak mengizinkan keraguan datang dan cinta menginterupsi.

Website : kota-bunga.net

Categories
Home

MEWAKILI SUARA BURUH

”MY name is Yohana and I am living with HIV.” Pernyataan itu dilontarkan Mariana Renata, 32 tahun, dalam pengambilan gambar video kampanye tentang kisah para pengidap human immunodeficiency virus (HIV) positif, yang diadvokasi Organisasi Buruh Internasional (ILO), Selasa pekan lalu. Mariana mewakili suara seorang buruh perkebunan di Indonesia, Yohana, yang baru mengetahui mengidap HIV positif ketika menjalani pemeriksaan di tempatnya bekerja. ”Banyak orang terkena AIDS tapi kurang mendapatkan informasi dan sulit memperoleh akses untuk melakukan pemeriksaan.

Ada pula beberapa negara yang tidak kuat menopang untuk melindungi hak mereka agar tetap bisa bekerja,” kata Mariana di sela pengambilan gambar yang berlangsung sekitar lima jam di sebuah studio di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pemeran film Janji Joni ini menyampaikan pesan dalam video tersebut dengan dua bahasa: Inggris dan Prancis. Meski fasih berbicara dalam dua bahasa itu, ia harus berkali-kali mengulang pengambilan gambar karena sering tercekat akibat terlampau cepat membaca naskah.

Mariana adalah satu-satunya tokoh dari Asia Tenggara yang didaulat ILO membawakan pesan tersebut. ”Ini proyek pro bono,” tuturnya. Ini pertama kali Mariana ikut serta dalam kampanye sosial. Ia ingin turut membantu menyebarluaskan pesan ini untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar pengidap HIV tetap bisa mendapatkan hak bekerja dan mudah memperoleh akses pengobatan. TERBAWA KARAKTER HABIBIE REZA Rahadian mengaku sempat merasa sulit melepaskan karakter Rudy Habibie panggilan Bacharuddin Jusuf Habibie ketika muda.

Ia tetap bersikap seperti Habibie bahkan ketika tidak sedang melakukan pengambilan gambar film Rudy Habibie. ”Hanya terbawa selama di lokasi syuting,” ujar Reza ketika ditemui Tempo di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin pekan lalu. Reza, 29 tahun, menghadapi tantangan baru untuk memerankan Habibie muda dalam film yang akan tayang di bioskop saat Lebaran itu. Ia mengatakan tinggal memanggil kembali memori dan mendatangkan imaji tokoh Habibie yang ia perankan sebelumnya dalam film Habibie & Ainun.

”Tapi jauh lebih energetik, lebih muda spiritnya, tempo ngomong-nya lebih cepat, bahasa Jermannya lebih banyak,” tuturnya. Untuk bisa menyerap semangat Habibie muda, Reza harus melakukan lagi pelatihan karakter bersama Habibie. Ia mengatakan banyak hal yang kembali digali dari sosok Presiden Republik Indonesia ketiga itu, seperti kisah-kisahnya selama jadi pelajar di Jerman. ”Dia di masa tuanya jauh lebih wise dan sabar menghadapi sesuatu, tapi mudanya keras kepalanya luar biasa! Kalau punya keputusan A, ya harus A,” kata Reza diikuti derai tawa.

Reza mengaku sempat menolak peran itu karena merasa takut memerankan Habibie lagi. Ia akhirnya menerima peran itu setelah Habibie meyakinkannya. ”Peran ini milik Reza, jadi harus kamu yang main,” ujarnya menirukan Habibie. HANS-Kristian Vittinghus, 30 tahun, mengaku masih tidak percaya tim bulu tangkis putra Denmark merebut Piala Thomas untuk pertama kalinya. Melalui smesnya yang akurat, ia mengalahkan pebulu tangkis Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa, sekaligus menjadi penentu kemenangan Denmark atas Indonesia dengan skor 3-2 pada babak final di Kunshan, Cina, 22 Mei lalu.

Apalagi, menurut dia, Indonesia sangat kuat di nomor perorangan. ”Rasanya tidak percaya, sulit dijelaskan, seperti bahagia, bangga, dan bersyukur bercampur jadi satu,” ujarnya saat ditemui Tempo di kediaman Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Casper Klynge, di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin pekan lalu. Vittinghus mengakui pertandingan itu tak mudah. Banyak tekanan karena Indonesia salah satu tim terkuat di kejuaraan itu.

Tapi ia menyambut tantangan itu dengan persiapan mental yang matang. ”Saya pikir lebih baik kami bertemu dengan Indonesia daripada Korea karena kami lebih setara dengan Indonesia,” katanya. Setelah kemenangannya yang bersejarah itu, Vittinghus dan timnya menerima banyak ucapan selamat, termasuk dari penggemar bulu tangkis Indonesia.

”Tapi ada beberapa yang mengatakan dengan bercanda akan membalas kami,” ujarnya, tertawa. Vittinghus menuturkan akan berlatih lebih keras karena bakal lebih sulit melawan Indonesia di Piala Thomas 2018.